Bismillahirrahmanirrahim,...
Hari itu sedikit mendung. Aku diatas motorku sedang melaju di jalan raya, mengejar waktu agar bisa secepatnya tiba di Jatinangor. Seabreg agenda menungguku setelah selesai memberi privat pada siswa-siswa di bandung. Tapi keinginanku agar bisa sampai secepatnya di Jatinangor sedikit terhambat….
Ban motorku bocor.
Aku berhenti tepat di depan sebuah bengkel besar, tapi saat itu banyak motor yang sedang antri menunggu giliran diservis. Mengira akan menunggu lama, aku pun mendorong motorku mencari bengkel lain, walau sebenarnya jauh lebih baik aku duduk tenang dan menunggu di Bengkel besar yang nyaman itu. Tapi entah kenapa tidak terfikirkan saat itu, di benakku hanya ada kalimat ‘perbaiki motorku secepatnya’.
Lama mendorong belum juga terlihat tanda-tanda bengkel,. Cuaca teriknya Kota Bandung dan Peluh yang menetes sedikit menggodaku untuk beristirahat, tapi entah kenapa tak jua kulakukan,. Lebih tergoda untuk segera menemukan seseorang yang bisa membantuku agar aku bisa segera sampai di Jatinangor.
Akhirnya kutemukan, sebuah tempat tambal ban mungil terselip antara toko penjual helm dan penjual tanaman hias pinggir jalan. Tempat tambal ban itu seperti tak bernyawa, hanya ada seperangat alat bengkel tradisional dan alat pengisi angin ban (entah apa namanya). Bapak sang empunya bengkel kecil yang awalnya duduk termenung di depan bengkelnya ini terlihat sumringah melihat ada pelanggan yang datang ke usaha kecilnya. Dengan segera menghampiri dan bertanya apa yang perlu ia bantu walau sebenarnya ia pasti melihat ban depanku kempes tanpa angin.
Dengan sigap ia menambal ban depanku,. Selama proses penambalan, kita banyak ngobrol. Ternyata seorang bapak yang usianya mungkin sudah mencapai kepala 6 ini, masih saja rajin bekerja dan berusaha keras membangun bengkel kecil-kecilan untuk bertahan hidup. Ketika ditanya tentang penghasilan., sedikit mencengangkan, dengan penghasilan yang seminim itu ia masih terus berusaha tanpa lelah meneruskan bengkel mungilnya. Padahal kalau dibandingkan dengan biayaku sehari sangat jauh berbeda. Lalu, dengan hidup yang semakmur ini masihkah aku ingin lebih? Masihkan tidak ada rasa syukur? Ya Rabb, maaf,…
Bapak tukang tambal ban, mungkin hanya secuil potret orang-orang yang kekurangan di negeri ini,. Tapi semangatnya, tidak akan pernah kalah oleh anak muda,. Semangatnya mengajarkanku banyak hal, tenyata kesulitan tidak selamanya membuat orang tidak bahagia, buktinya dia pasti jauh lebih bahagia daripada konglomerat yang menyembunyikan hasil korupsi dan tak pernah tenang menutup rapat-rapat aibnya itu.
Terima kasih bapak,…
Memang hidup itu keras, tidak mudah. Tapi setiap orang punya jalannya masing-masing,. Dan Allah yang lebih mengerti mengapa jalan ini yang kita harus lewati, karena hanya Allah yang paham akan seperti apa kita nantinya,…
Semoga kebahagiaanmu akan tetap selalu menjadi semangatmu pak! Hormatku padamu,. Tetaplah jadi bapak tukang tambal ban yang semangat, yang ceria, yang bekerja penuh rasa Ikhlas, dan Bapak tukang tambal ban yang takut pada Allah,….
Cerita Sang Pembelajar
- Fathzone
- Sebuah kekuatan yang datang dari dunia mimpi dan menghadirkan diri sebagai kenyataan karena-Nya. Jiwa yang rajin mengulik hikmah dari setiap apa yag terjadi dalam hidupnya, dan juga acap kali membuat renungan-renungan, karena hidup perlu evaluasi,.. Karena kita manusia,... Ya, selamat datang di dunia Hikmah dan Perenungan,..
Assalamu'alaikum,...
Minggu, 09 November 2008
Bapak tukang tambal ban,…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Postinganku,..
Kategori
- Filsafah hidup (1)
- Hikmah (4)
- Iseng (2)
- keep fight (1)
- Religion (2)
- Renungan (4)
- Siyasi (2)
0 komentar:
Posting Komentar