Senin, 04 Mei 2009

Berlari,....!!!!

Bismillahirrahmanirrahim,...


@ Sasana Ilmu yang riuh di salah satu sudut yang sunyi,...

Ketika dulu kita masih duduk bersama
Kusia-siakan kesempatan untuk membahagiakanmu
Saat dulu tak ada jurang yang sebegini lebar menganga
Kuhancurkan asamu saat kau lihat aku termangu ragu
Ketika dulu banyak celah untuk aku terus berjaya
Kuabaikan doa dan dukungan tulusmu untuk terus maju
Dan saat dahulu begitu banyak waktu untuk kita berbagi cerita
Bodohnya aku malah sibuk dengan urusan tak berguna yang semu

Sekarang ketika jurang itu menganga sangat lebar
Sekarang ketika jarak itu sangat sukar dicapai
Dan sekarang saat baru kulihat cahaya cinta itu mekar
Membodohi diri mungkin tak cukup untuk bisa kembali
Rasa iba yang menggelora karena jiwa tak cukup sabar
Juga kecewa karena di awal tak kuasa lebih mencintai

Andai waktu itu dapat kuulang lagi
Seandainya kesempatan itu bisa kuraih kembali
Akan kuhabiskan waktu itu untuk selalu berbagi
Akan kukerahkan tenaga dalam diri ini untuk berlari mengejar mimpi
Akan kurampas lagi kesempatan itu berkali-kali
Dan kau akan melihat diri ini berjaya mengasihi

Tapi ternyata tak ada waktu yang bisa kembali
Tak ada kejadian yang dapat kutarik kembali
Namun tak ada yang bisa menyaingi DIA dalam mencintai
Karena keterlambatan bukan suatu kegagalan yang pasti
Dan selalu ada kesempatan kedua untuk jika mencari
Mencoba untuk bangkit,.. berdiri,.. berjalan,.. bahkan berlari,....!!!

Jumat, 26 Desember 2008

Bismillahirrahmanirrahim,...

Cintaku Untukmu, Ma,…






Dulu ketika aku belum ada (entah ada dimana) engkau berdoa siang dan malam agar kau mendapatkan seorang buah hati yang nantinya akan sangat kau sayangi, kau berjanji pada Allah akan menyayangi, menjaga dan mendidikku agar selalu ingat padaNya.
Lalu, ketika aku sudah berada dalam rahimmu, masih belum melihat dunia, kau menjaga agar tiada suatu apapun yang menggangguku. Ketika aku menendang-nendang ingin segera keluar dari rahimmu yang nyaman tak terbayangkan betapa tersiksanya kau waktu itu, betapa banyak peluh yang membanjiri tubuhmu, betapa keras kau berteriak karena sakit yang begitu menyiksa, betapa kuatnya kau bertahan agar tetap hidup, berjuang antara hidup dan mati agar dapat melihat wajahku, anakmu.
Ketika aku pertama kali melihat dunia, tangis kencangku menyapa pertanda aku telah ada, terus bernyawa. Tangis kencangku membuat semua penderitaan dan pengorbanan itu sirna berganti senyum letih bahagia, dengan tangis terharu memelukku dalam dekapanmu, mencium dan terus mencium. “Terima kasih Allah, kau telah menitipkan padaku seorang bidadari mungil yang lucu”
Setelah aku lahir tak tau berapa banyak waktumu yang kau serahkan sebagai pengabdian seorang ibu. Tengah malam saat orang-orang tertidur lelap kau terbangun mendengar tangis rengekanku karena banyak nyamuk-nyamuk yang mengganggu,. Bahkan untuk qiyamullail pun seringkali terganggu hanya karena tangisku yang manja meminta sedikit susu. Sampai pagi pun aku tidak berhenti menangis karena banyak permintaanku yang terpaksa menyita banyak waktu tidurmu. Tapi kau tidak pernah mengeluh karena rasa sayang dan cintamu padaku telah membayar semuanya.
Ketika aku beranjak besar, aku mulai merepotkanmu dengan kebutuhan yang tidak sedikit. Mulai makan, pakaian, biaya sekolah. Kau rela bersusah payah dengan bantuan seorang ayah. Berhemat agar semua kebutuhanku terpenuhi, memangkas jatah makan dengan harapan agar aku bisa memegang sebuah boneka.
Ketika title ’remaja’ sudah melekat padaku, entah berapa banyak dosa yang telah kubuat padamu. Aku sering membuatmu marah, membuatmu sakit hati, bahkan membuat air matamu jatuh karena kenakalanku. Tapi rasa cinta dan sayang yang dulu untukku masih bertahan,tak berkurang sedikitpun. Siang malam kau berdoa untuk kebaikanku, memohonkan maaf bagiku padaNya.
Dan sekarang, ketika aku sudah mulai mengerti apa itu arti hidup, aku merasakan banyak sekali salah dan dosa yang telah aku buat padamu, entah berapa kali aku membuatmu marah, entah seberapa sering kau menangis karena ulah tak masuk akalku.
Oh, Mama,…
Belum sedikitpun ku balas jasamu. Tidak, memang tidak akan pernah aku mampu membalasmu. Maafkan aku mama, sangat sedikit baktiku padamu.
Wajahmu yang sekarang sudah mulai ada garis-garis halus pertanda bertambahnya usia. Tersirat keletihan disana, tapi tak seditpun mengurangi aura keteguhanmu,. Rasa sayang itu masih disana, Senyum cinta yang dulu jelas kulihat tak beranjak sedikitpun.
Mama, semoga Allah selalu mencintaimu. Semoga kebahagiaan selalu bersamamu. Janjiku masih terpatri, suatu hari kau akan jadi manusia paling bahagia. “aku sudah menjadi manusia paling bahagia sejak aku mendapatkanmu, sampai sekarang rasa bahagia itu masih utuh” ucapanmu itu membuat lututku lemas karena merasa diri sangat tidak berguna. Ada malaikat yang selama ini menjagaku, tapi masih saja dulu aku sakiti.
Oh, Mama,… Maafkan,…
Jika suatu saat nanti aku tak bernafas lagi. Satu yang kusesalkan, ketika rasa terima kasih dan beribu maafku belum sampai padamu,… Terima kasih Ma,… Cintamu kekuatanku.
Suatu kebanggaan pernah lahir dari rahimmu,…
Suatu kehormatan merasakan cinta darimu,…
Allah, bahagiakan ibuku. Ampuni semua dosanya,… Tetaplah mencintainya, seperti dia mencintaiku.

Mama,… Cintaku untukmu,….
Selamat Hari Ibu, hari perempuan-perempuan terbaik kepunyaan Allah,…

Jumat, 05 Desember 2008

Pak Rektor, Wait Me,....

Bismillahirrahmanirrahim,...


Kesabaran lagi diuji nih,....
Bikin janji sama orang penting susah banget euy.
Ketemu Pak Rektor harus melewati proses yang panjang,...
Dioper-oper,...
SEkarang lagi nungguin Humas untuk cek janji Pak Tektor kosong atau gak,..
Walah,...
SEmangat fatty,...
Ishbir!!!

Template by : kendhin x-template.blogspot.com